“ittaqunnar walau bisyiqqo tamrotin: Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma”(Hadits Shahih, Riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat Shahiihul jaami’ no. 114)

Sunday, February 26, 2017

Khutbah Jum'at - Kisah Abu Thalib

“Maa kanalinabiyi waladzi na’amanu ayastaghfirulil musrikin, walau kaanu uli qurba mimba’ dimaa tabayyana lahum annahum ashabul jahiim” Ama ba’du.



Maasyirol Muslimin Rakhimakumullah,
Pada kesempatan ini kita akan berbicara tentang Kisah Abu Thalib, siapakah Abu Thalib ini? Al Imam Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa namanya Abu Thalib adalah Abdul Manaf, jadi Ali bin Abi thalib, adalah Ali bin Abdul Manaf. Abu Thalib adalah kun-yah beliau, kita tau bahwasannya kun-yah termasuk panggilan kehormatan yang itu bukan hanya di Arab, sampai di negeri kitapun kun-yah ini ada sebenarnya. Biasanya kalau kita melihat di Jawa sini, mereka itu kalau memanggil orang tua, biasa dipanggil dengan nama anaknya yang besar.


Sebagai contoh nama bapaknya Pak Inkan dan nama ibunya Bu Inkan, ternyata Inkan itu adalah nama anak terbesar dari mereka. Jadi panggilan Pak Inkan itu artinya Bapaknya Inkan.

Begitulah kun-yah yang ada didalam bahasa Arab itu, ditekankan atau disunahkan sebagaimana Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam memiliki kun-yah dan sebagimana istri-istri Beliau, sebagian juga memiliki kun-yah radiallahu ta’ala anhum.

Jadi nama Abu Thalib adalah Abdul Manaf, Abu Thalib ini adalah saudara kandugnya Abdullah Bapaknya Rasulullahu Salallahu’alaihi wassalam. Jadi Ayahnya Rasulullah itu memiliki 13 bersaudara yang disebutkan, dan Abu Thalib adalah saudara Abdullah yang satu kandung. Rasulullah memanggil Abu Thalib ini sebagai Pamannya.

Oleh karna itu tatkala Abdul Muthalib kakeknya Rasulullahu salallahu’alaihi wassalam telah masuk usia senja dan sudah sepuh (tua renta), kakeknya Rasulullah ini mewasiatkan kepada Abu Thalib untuk merawat dan menjaga Nabi Muhammad  Salallahu’alaihi wassalam ketika beliau masih kecil. Ketika kakeknya wafat, umur Rasulullah sekitar 8 tahun, lalu Beliau dirawat dan dibesarkan oleh Pamannya Abu Thalib.

Al Imam Bukhari ketika menyebutkan hadits ini, beliau ingin menjelaskan dan menerangkan kepada kita, bagaimana posisi Abu Thalib, dia sebagai sosok seorang paman yang membela keponakannya, yang memberikan segala apa yang dimiliki,  untuk menyelamatkan keponakannya, kemudian beliau wafat. Abu Thalib meninggal setelah keluarnya Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihiwassalam dari boikot orang-orang kafir Quraisy.

Al Imam Bukhari berkata: “telah mengajarkan kepada kami Al Abbas Ibnu Abdul Muthalib, siapa dia? Saudaranya Abu Thalib, pamannya Rasulullah salallahi’alaihi wassalam. Abbas berkata: wahai Nabi, apa manfaat yang bisa kau berikan kepada pamanMu Abu Thalib? Dia senantiasa menjagamu, marah untuk diriMu, jadi kalau kita lihat perjalanan hidup Rasulullah sampai Beliau menikah, sampai beliau menjadi Rasul, kemudian beliau berdakwah, itu paman Nabi Abu Thalib senantiasa melindungi dan menjaga Rasulullah Salallahi’alaihi wassalam.

Bahkan diantara syair-syair yang diucapkan oleh Abu Thalib sebagai pertanda dia akan memberikan loyalitas dia kepada Muhammad, Abu Thalib berkata: Demi Allah mereka tidak akan bisa menyentuhmu semua, sampai aku ditidurkan di tanah, sampai aku mati baru mereka menyentuh diriMu.

Dan Rasulullah merasakan perjuangan Abu Thalib membela Nabi ‘alaihitu wassalam, itu tatkala Abu Thalib sudah meninggal dunia. Karena disebutkan bagaimana orang-orang kafir quraisy itu bisa menyakiti Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wassalam yang sebelumnya tidak bisa seperti itu. Sampai setelah wafatnya Abu Thalib ada yang melemparkan Rasulullah dengan debu dan pasir yang mana sebelumnya tidak pernah terjadi.

Maasyirol Muslimin Rakhimakumullah,
Ini pertanyaan Paman Nabi (Al Abbas) kepada keponakannya, tentang paman keponakan yang lainnya, yang telah membantu dan menolong dia. Apa kata Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam, dia berada diatas api neraka, dimana sampai mata kakinya berada didalam api neraka, tapi tubuhnya tidak. Rasulullah lanjut berkata: andaikata bukan karena saya, maka niscaya dia berada di keraknya api neraka.

Jadi Abu Thalib bisa naik dari dasar api neraka menuju atas api neraka, itu karena syafa’at Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Ini adalah syafaat khusus, yang dikhususkan untuk Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam, dimana pada hakikatnya, seorang tidak dapat memberikan syafaat kepada orang kafir, karena syafaat Allah itu akan diberikan kepada orang yang di ridhoi oleh Allah dan kepada orang yang diberi izin untuk memberikan syafaat kepada orang lainnya.

Kita ketahui orang-orang yang musrik adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah subhanallahi wata’ala. Namun syafa’at yang diberikan oleh Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wassalam, tidak bisa mengeluarkan Abu Thalib dari api neraka. Dia tetap dineraka walaupun tubuhnya diluar. Tapi kita akan membaca hadits selanjutnya. Bahwa ini adalah azab yang paling ringan untuk penghuni neraka.

Hadits selanjutnya Imam Bukhari mengatakan: telah mengajarkan kepada kami Mahmud, ketika Paman Nabi Muhammad, Abu Thalib ini mau meninggal, Nabi masuk kedalam rumahnya dan ternyata ditempat itu ada Abu Jahal dan Abu Umayyah, kita dapat mengambil sebuah faedah indah, bahwa Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam tidak pernah berhenti berdakwah.

Tatkala pamannya sakit parah, Beliau datang mengunjunginya, ternyata ditempat itu ada Abu Jahal. Rasulullah berkata: wahai pamanKu, katakana “laa illahaillallah”.
Kalau kita pikir apasih beratnya mengatakan “laa illahaillallah”? Apalagi orang Arab bisa mengatakannya dengan fasih. Nabi mengatakan pamanku katakan “laa illahaillallah” sebuah kata-kata yang akan aku jadikan argumentasi membelamu kelak disisi Allah Subhanallahu wata’ala.

Karena dengan “laa illahaillallah” ini, seorang pindah meninggalkan agamanya terdahulu, agama kekufuran dia, kesyirikan dia, dan Abu Thalib tau dengan konsekwensi ucapan itu. Jadi ucapan “laa illahaillallah” bukan hanya sebuah slogan, bukan hanya sebuah wiridan, yang dibaca tanpa makna, tanpa ada konsekwensi dari yang mengucapkannya.

Maasyirol Muslimin Rakhimakumullah,
Kalau kita melihat di negeri kita ini, banyak orang yang mengatakan “laa illahaillallah” tapi masih memberikan sesajian untuk selain Allah, lantas dimana “laa illahaillallah” yang dia ucapkan? Dia mengatakan tiada “illa” tiada “Rob” yang berhak disembah kecuali Allah subhanallahi wata’ala, kok kemudian setelah dia mengucapkan hal itu, dia memberikan ibadah dia kepada selain Allah. Lalu kemana ucapan dia “qul inna sholawati, wanusuki, wamahyahya, wamahmati, lillahirobbil ‘alamin”.

Kita lihat ucapan Nabi meminta kepada pamannya untuk mengatakan “laa illahaillallah”, karena kalimat “laa illahaillallah” adalah kalimat yang sangat mulia, bahkan di afdholul dzikir.

Kata Abu Jahal, wahai Abu Thalib, apakah engkau benci dengan agama nenek moyangmu? Disini kita melihat, salah satu yang membuat orang itu, tidak beranjak dari kesesatan dia, tidak mendapatkan hidayah dari Allah Subhanallahu wata’ala, tatkala dia merasa kalau mengikuti kebenaran itu, akan menimpakan kehinaan, celaan, aib, kepada nenek moyang.

Tatkala meninggalkan tradisi, naudzubilla kalau kita lihat di Indonesia ini kita memiliki banyak tradisi, dan ada tangan-tangan tersembunyi, yang berusaha membuat tradisi-tradisi Hindu, tradisi-tradisi Budha sebelum Islam  itu tetap ada. Dengan dalih inikan tradisi, inikan budaya. Subhanallah, kita harus tau bahwa kita adalah hamba sang pencipta, kita bukan hamba alam, kita bukan hamba tradisi, kita bukan budak siapapun, kita hanya budak Allah Subhanallahi wata’ala.

Maka yang harus menjadi tolok ukur dalam kehidupan seorang muslim adalah “laa illahaillallah”. Itulah yang menjadi tolok ukur kita. Usai segala tradisi, segala kebiasaan, segala tingkah laku yang bertentangan dengan “laa illahaillallah” maka itu kubur. Karna jauh sebelum tradisi itu ada, kita ini semua tidak ada, orang-orang juga tidak ada. Yang ada hanya Allah jala jalalu. Dialah yang memberikan rizki kepada kita, jadi yang memberikan makan kepada kita ini bukan presiden, bukan gubernur, bukan perusahaan, bukan orangtua kita, bukan semua.

Memang kita bekerja, berusaha, tapi yang member makan kita ini Allah jala jalalu, Allah yang member rizki kepada kita, maka kita harus sadar bahwa kita adalah hamba Allah Subhanallahi wata’ala bukan hamba siapa-siapa.


Maasyirol Muslimin Rakhimakumullah,
Maka disini Abu Jahal, berusaha untuk menyesatkan pamanya Nabi yang sudah mau mati, tapi Abu jahal tidak ingin Abu Thalib ikut mati dalam kondisi Islam. Dia hadir disana, menghalangi Abu Thalib dari keimanan, diingatkan dia dengan tradisi, dengan nenek moyang. Subhanallah.

Akan tetapi Rasulullah terus berdakwah, tidak bosan dan tidak jenuh, beliau tetap mengharap selama hayat masih di kandung badan, masih ada harapan. Dan seorang muslim tidak boleh berhenti berdakwah.

Mungkin Orang tua kita masih ada yang dalam kondisi musrik / kafir, ketika dia sakit, datanglah ke kepadanya ajak dia untuk mengatakan “laa illahaillallah” jangan cuma membelikan obat untuk orang tua, jangan hanya memberikan fasilitas kepada kedua orang tua. Karena itu semua akan hilang, tapi berikan hidayah kepada orang tua kita, kalau Allah berkehendak, semoga Allah membukakan pintu hatinya.

Akhirnya terus Abu Jahal dan Abu Umayyah menyesatkan Abu Thalib, hingga Abu Thalib wafat dalam keadaan Non muslim, maka Rasulullah berkata: aku akan beristighfar untukmu sebelum aku dilarang. Rasulullah diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin, beliau ingin, semuanya mendapatkan kasih sayang Allah Subhanallahi wata’ala.

Kemudian datanglah firman Allah didalam Surat At Taubah 113: “Maa kanalinabiyi waladzi na’amanu ayastaghfirulil musrikin, walau kaanu uli qurba mimba’ dimaa tabayyana lahum annahum ashabul jahiim” Tidak boleh bagi seorang Nabi dan tidak boleh bagi orang-orang yang beriman untuk beristighfar dan untuk memohonkan ampun bagi orang-orang musrik walaupun mereka kerabat, orang tuanya atau siapapun, sesudah jelas bagi mereka bahwasannya orang-orang musrik itu adalah penghuni neraka jahannam.

Jadi, seorang anak tidak boleh mengatakan “Robighfirli waliwalidayya warhamhuma kama Robayani soghiroh” kalau orangtuanya kafir. Tapi selama dia hidup kita boleh memohonkan hidayah bagi mereka, tapi setelah wafat, sudah selesai “mimba’ dimaa tabayyana lahum annahum ashabul jahiim” telah tampak bagi mereka kalau mereka itu mati dalam kondisi kafir dan mereka termasuk penghuni neraka jahiim.


Maka selesailah Rasulullah tidak memohonkan ampun buat pamannya, tapi Nabi berusaha memberikan syafaat sebagaimana dalam hadits Al Abbas bahwasannya Pamannya ada didasar Api Neraka, dengan syafaatnya maka naik Pamannya tersebut dipermukaan api neraka.

Dan juga turun firman Allah dalam Surat Al Qasas ayat 56: “innaka laa tahdi man ahbabta walaa kinnallaha yahdi mayyasaa’. Wahuwa ‘alamu bil muhtadiin.” Disini kita harus mendudukkan diri kita sebagai seorang hamba yang lemah, sebagai hamba yang tidak memiliki apa-apa, sebagai hamba yang keinginannya tidak akan terlaksana kecuali apabila bersamaan dengan keinginan sang pencipta, Allah mengatakan: Engkau Muhammad tidak akan dapat member petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Itulah Abu Thalib, mati dalam kondisi kafir, mati dalam kondisi tidak beriman, dan kalau dikatakan: mana mungkin Nabi memiliki paman yang kafir, atau orang yang membelai dakwah Nabi dalam kondisi kafir, apa yang tidak mungkin sebenarnya, kalau kita melihat Allah Subhanallahu wata’ala “fa’alu lima yurid” Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.

  
Khutbah Kedua

Maasyirol Muslimin Rakhimakumullah,
Di hadits selanjutnya, Al Imam Bukhari mengatakan: Disaat ada perbincangan tentang Abu Thalib Pamannya Nabi Salallahu ‘alaihi wassalam, maka Nabi berkata: semoga dia mendapatkan syafaatku, atau semoga syafaatku bermanfaat bagi dia pada hari kiamat nanti.

Dimana dia yang seharusnya didasar api neraka, kemudian dia diangkat dan diletakkan di bagian atas api neraka, dimana api neraka itu hanya sampai ke mata kakinya, akan tetapi otaknya itu mendidih. Subhanallah, betapa azab api neraka begitu dahsyat, itulah azab orang yang paling ringan di hari kiamat nanti.


Wallahu ‘alam bissawab, semoga Allah Subahallahu wata’ala memberikan hidayah kepada kita semua, dan sehingga kita bisa melihat kebenaran itu.

Semoga bermanfaat,
Ded Lee

Sumber:
Ceramah Ustadz DR. Syafiq bin Riza bin Basalamah MA