“ittaqunnar walau bisyiqqo tamrotin: Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma”(Hadits Shahih, Riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat Shahiihul jaami’ no. 114)

Sunday, April 16, 2017

Kisah Perang Qodisiyah (Umat Islam Melawan Kerajaan Adikuasa Persia)

Ilustrasi Perang Qodisiyah

Sedikit mengupas bukunya Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal & rujukan lain tentunya. Perang Qadisiyah adalah salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah Islam. Sebuah perang yang penting dan menentukan dalam penaklukan imperium Persia, negara adidaya saat itu selain imperium Romawi Byzantium. Peristiwa monumental tersebut menurut beberapa ahli sejarah terjadi pd tahun 14 H/637 M, pada masa khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu’anhu.

Al-Qadisiyyah, Kadisiah atau Qadisia merupakan sebuah daerah di timur sungai Eufrat. Memiliki banyak kebun kurma dan aliran irigasi. Qadisia merupakan pintu gerbang Persia masa lampau. Saat ini terletak di barat daya Hillah & Kufah, wilayah tengah negara Irak sekarang ini. Pada tahun 634 M, Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu menjadi khalifah menggantikan Abu Bakr radhiyallahu’anhu yang wafat.

Tahun 636 M, sebagian Syam (sekitar Syiria) sudah dibebaskan dari Romawi, sebagian Mesopotamia (Irak) dibebaskan dari Persia.Setelah pembebasan Damsyik/Damaskus dan Yordania, maka Umar lalu menargetkan ibukota Persia, Mada’in/Ctesiphon. Umar menganggap bila Mada’in, Hims, Antiokia dan seluruh Syam & Irak tidak dikuasai, maka Romawi & Persia akan terus jadi ancaman.


Umar lalu mengirim surat kepada para wakilnya di kota-kota kecil dan kabilah-kabilah di semenanjung Arab. “Pilih dan kirimkan kepadaku semua yang memiliki senjata dan kuda, serta keberanian dan kearifan. Cepat! Cepat!”. ”Akan aku hantam raja-raja Persia itu dengan raja-raja Arab!” . Sebenarnya khalifah ingin memimpin sendiri pasukan dalam ekspedisi militer teramat penting ini.

Namun para sahabat senior berpendapat lain, karena terlalu besar “pertaruhannya”. Musuh yang akan dihadapi bukan main-main. Bila pasukan yang dipimpin khalifah kalah, maka efeknya akan sangat buruk. Akhirnya melalui perundingan Khalifah Umar dengan para sahabat senior, ditunjuklah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu radhiyallahu’anhu, sebagai panglima.

Sa’ad adalah salah seorang sahabat Rasul shalallahu’alihi wasalam yang utama. 1 dari 10 orang yang dijanjikan surga. Setelah itu terkumpul 4.000 prajurit di Madinah dengan membawa isteri dan anak-anak mereka. Pasukan ini pun berangkat menuju Qadisia. Sementara pasukan ini berangkat, mobilisasi terus berjalan sampai terkumpul 36.000 prajurit.

Singkat cerita sampailah mereka di Syaraf. Di sana pasukan ini bertahan. Sa’ad mengirim pasukan perintis ke Uzaib, gudang senjata Persia. Ternyata didapati sudah kosong. Pasukan pun bergerak ke Qadisia dan bertahan di sana selama 1 bulan. Sejak awal berangkat, Sa’ad selalu berkorespondensi dengan Umar. Laporan dan perintah dilakukan dengan cara itu.

Sementara bertahan di Qadisia, terus dilakukan operasi militer ke daerah-daerah sekitarnya. Secara teknis suplai logistik pun terjamin. Sementara itu Kaisar Persia, Yazdigird, berunding dengan Panglima Besar Rustum, mengenai sikap Persia atas ekspedisi militer ini. Yazdigird ingin segera menghadapi pasukan muslim secara frontal, all-out-attack. Namun Rustum berbeda pendapat.

Sedangkan Rustum menginginkan agar menghadapinya sepasukan demi sepasukan sampai mereka lemah. Yazdigird setuju. Namun Rustum diperintahkan mengamankan daerah Sabat, tak jauh dari Madain, yang terus diganggu pasukan muslim. Sementara itu, Umar memerintahkan Sa’ad agar mengirim delegasi diplomatik ke Kaisar Persia, Yazdigird III, di Mada’in.

Delegasi diplomatik pun dikirim ke istana Persia, dan singkat cerita berhasil menghadap sang kaisar yang baru dilantik ini. Yazdigird: “Apa yg mendorong kalian nekat datang ingin menyerang ke negeri kami ini?” Nu’man bin Muqarrin radhiyallahu’anhu menjawab bahwa Allah telah mengutus seorang Rasul dengan membawa wahyu-Nya dan mengajak Yizdigird masuk Islam.

“Jika anda memperkenankan ajakan ini, kami akan tinggalkan kepada Anda kitabullah dan kami tetapkan Anda sebagai penguasa yang berwenang menegakkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya lalu kami segera kembali ke negeri kami dan membiarkan anda mengurus negeri dan rakyat anda. Jika anda menolak, kami harus memungut jizyah dari kalian dan kalian kami lindungi. Jika kalian enggan maka akan kami perangi.”

Bang!! Yazdigird murka, namun masih berusaha menahan diri. Ia hanya berkata pedas, jumawa akan superioritas Persia atas Arab. Mughirah bin Syu’bah kemudian mengambil giliran bicara. Mughirah ini adalah sahabat Rasulullah shalallahu’alihi wasalam yang ikut dalam perundingan Hudaibiyah dengan musyrikin Quraisy di tahun 6H/627M.

Di sana beliau hampir menampar seorang diplomat Quraisy yang berbicara dengan mengangkat tangan sampai hampir mengenai jenggot Rasul shalallahu’alihi wasalam. Mughirah bin Syu’bah berdiri menjawab kesombongandan pelecehan Yazdigird tersebut dengan mengakui kehebatan Persia. Bla bla bla.. Tapi menutup kata dengan “Pilihlah mana yang lebih anda sukai: membayar jizyah, pedang, atau menyerah demi keselamatan anda?”

Mendengar itu Yazdigird murka bukan kepalang: “Andai utusan itu boleh dibunuh, niscaya kubunuh kalian! Sudah! Selesai!”. Lalu berkata kepada anak buahnya: “Bawa ini kepada pemimpin mereka dan seret mereka keluar pintu Mada’in!” Maksudnya pelecehan sih, “kalo ente-ente mau tanah Persia, nih ambil sekarung!”. Setelah itu ia berkata kepada delegasi: “Kembalilah kepada pemimpin kalian dan katakan bahwa aku akan mengirim Rustum kepadanya yang akan menguburnya & kalian di parit Qadisia. Lalu menyerbu negeri kalian & menghancurkannya sehancur2 nya!!”

Bukannya takut, Asin bin Amar malah berdiri dan memanggul tanah tersebut keluar balairung dan pulanglah mereka ke Qadisia. Begitu sampai di benteng Fudaik,  Asin bin Amar lapor dan menyerahkan tanah tsb kepada Sa’ad lalu berkata: “Ini berita bagus, Allah telah memberikan kunci kerajaan mereka kepada kita”.  Di Madain, Yazdigird memanggil pembesar-pembesarnya, termasuk Rustum untuk membahas perundingan tadi.

Ilustrasi Istana Kerajaan Persia

Rustum adalah seorang panglima besar yang percaya nujum dan ramalan. Bahkan dia sendiri adalah peramal. Setelah mendengar cerita perundingan tadi, dirinya kesal, marah dan sedih. Hatinya menyalahkan Yazdigird. Karena dia percaya ramalan mitos bahwa orang yang membawa keluar tanah Madain, maka mereka akan menguasai Persia.

Rustum juga masih ingat bagaimana pasukan Persia dikalahkan pasukan muslimin pimpinan Mutsanna bin Haritsah di perang Buwaib. Ia lalu mengutus orang untuk merebut sebakul tanah tadi, namun sudah terlambat. Btw, jangan salah ya. Ini bukan membenarkan ramalan, tapi penting diceritakan karena di sinilah awal down-nya mental Rustum.

Yazdigird lalu memerintahkan Rustum menyiapkan pasukan untuk menyerang. “Berangkatlah, atau aku sendiri yang berangkat!”.  Rustum berangkat dengan Jalinus memimpin 40 ribu prajurit, dia sendiri dengan 60 ribu dengan Hormuzan di kanan & Mehran Bahram Razi di kiri.  Dia mengirim surat kepada saudaranya, Bendawan, memerintahkan untuk bersiap. Di akhir suratnya dia mengutarakan pesimisnya.

Mobilisasi pasukan Rustum ini akhirnya mencapai 120.000 prajurit dan pasukan gajah. Mereka pun bergerak menuju Qadisia. Rustum yang sejak awal enggan berperang melambat-lambatkan perjalanan. Ia berharap lawan gentar melihat pasukannya dan batal berperang. Rustum juga berharap dengan panjangnya waktu pasukan muslimin akan lemah dengan sendirinya.

Rustum tiba di Qadisia setelah empat bulan lamanya, padahal normalnya cukup ditempuh dalam beberapa hari saja. Rustum menempatkan pasukan gajahnya di barisan depan untuk menggertak. Lalu meminta Sa’ad minta agar dikirim delegasi kepadanya. Sa’ad lalu kembali mengutus Mughirah bin Syu’bah yang dulu anggota delegasi untuk berunding dengan Yazdigird.

Mughirah tetap aja keukeuh mendakwahi lalu menawarkan 3 opsi yakni Islam, jizyah atau perang. Gertakannya sangar, “Anak-anak kami sudah pernah merasakan makanan negeri kalian, dan mereka sudah tak sabar lagi”. Para perwira Persia banyak yang naik pitam, namun Rustum menahan diri dan minta waktu. Besoknya ia meminta berunding lagi. Datanglah Rib’i bin ‘Amir yang intinya sama dengan yang disampaikan Mughirah.

Rustum lalu menawarkan proposal manis asal tentara muslim mau pulang. Namun jawaban Rib’i tetap: Islam, jizyah atau perang. Untuk ketiga kali Rustum minta berunding, namun tetap juga deadlock. Kaum muslimin sejak zaman Rasulullah shalallahu’alihi wasalam tidak pernah menunda-nunda tugas delegasi sampai lebih dari 3 hari.  Sekarang kondisinya sudah jelas. Tiada jalan lain selain perang.

Ketika jalan diplomasi buntu, maka perang pun sepertinya tak terhindarkan lagi. Sa’ad memilih bertahan di tempat, menolak tantangan Rustum untuk menyeberangi sungai Atiq.  Pasukan muslim dilindungi sungai Atiq di depan, parit Shapur di kanan dan padang pasir di belakang. Rustum tiada pilihan lain selain menyeberang. Wibawa kerajaan sudah centang-perenang, Arab harus dihancurkan dengan sekali pukulan.

Rustum menunda dan menunggu sampai malam gelap. Ia memerintahkan pasukannya menimbun sungai Atiq dengan tanah dan kayu. Persia pun menyeberang. Kedua pasukan pun bersiap-siang bertempur, Menjelang pecahnya perang, Sa’ad tertimpa penyakit pinggul dan bisul di sekujur tubuh. Ini menghalanginya untuk duduk dan berkuda.

Dari atas benteng, beliau mengatur pasukan dalam keadaan bersandar di atas dadanya yang terletak di atas bantal. Pintu benteng sendiri tidak ditutup menunjukkan keberanian Sa’ad. Kemudian ditunjuk Khalid bin Urfatah menjadi deputi panglima. Sa’ad menghadirkan para pemuka kaum, jagoan perang, dan penyair sebagai upaya mengobarkan ruh jihad tentara Islam.

Beliau juga memerintahkan agar dibacakan ayat-ayat jihad dari surat Al-Anfal. Hal ini membawa ketenangan bagi para prajurit. Mereka mengetahui kemenangan bukan dinilai dari kekuatan pasukan. Kemenangan adalah karunia dan pertolongan Allah subhanahu wata’ala.  Di sisi lain, Persia menyiapkan 30.000 tentara khusus yang diikat dengan rantai besi agar tidak melarikan diri.

Rustum sendiri mengenakan 2 lapis baju besi. Nasionalismenya menggelegak, lupa akan ramalan buruk yang tadinya dipercayainya. Baginya sekarang teramat aib apabila Persia kalah oleh “pasukan Arab yang kasar dan tak beradab” itu. Kedua pasukan sudah berhadapan, tinggal menunggu perintah untuk menyerang. Adrenalin meninggi, degup jantung seakan berpacu.

Mereka sadar akan menghadapai pertempuran dahsyat. Pertempuran yang sangat menentukan: Persia kalah dan jalan ke Mada’in terbuka, atau muslimin kalah dan dihancurkan sebagaimana sumpah Yazdigird. Seusai shalat zhuhur, Sa’ad mengumandangkan takbir pertama, seluruh prajurit bertakbir dan menyiapkan diri. Takbir ke-2, mereka bertakbir & bersiap dengan senjatanya. Takbir ke-3, mereka bertakbir sembari bersiap memacu kuda2.

Dan setelah pekikan takbir ke-4, mereka menggempur barikade Persia hingga malam tiba,bagai singa2 garang yang memburu mangsanya.  Pasukan Persia menggunakan gajah untuk memporak-porandakan barisan infanteri dan kavaleri muslim. Strategi mereka sukses besar . Mereka bingung bagaimana mengalahkan gajah-gajah tersebut. Sa’ad memanggil Asim bin Amr untuk mendiskusikannya.

Kemudian Asim meinta pasukan pemanah melindunginya dan pasukannya yang berusaha memotong tali pelana gajah-gajah tersebut. Saat pelana-pelana gajah terpotong dan saisnya terjatuh, gajah lalu berbalik dan dihujani panah dari belakang. Namun gajah2 tersebut sudah bertugas dengan baik. Hari pertama ini milik Persia. Hari pertama ini dikenal dengan pertempuran Armas.

Pada petang hari pertempuran dihentikan dan kedua pihak kembali ke garis pertahanan masing-masing. Dini hari, tiba 1.000 tentara bantuan dari Syam dipimpin Qa’qa’ bin ‘Amr, seorang pemberani,cerdik & sering bertempur dengan Persia. Hari kedua pertempuran pun dimulai. Peristiwa ini dikenal dengan pertempuran Agwas. Qa’qa’ maju ke depan dan menantang duel pasukan Persia. Maka majulah seorang perwira mereka dan memperkenalkan diri.

“Aku Bahman Jadhuweh, Sang Pengawal Istana!”. Pimpinan pasukan elit ternyata. Qa’qa’ menjawab: “Saatnya pembalasan Abu Ubaid, Salit dan rekan-rekannya di Perang Jembatan!”.  Adu mulut tak perlu lama, adu pedang pun begitu pula. Bahman segera tersungkur mati. Pasukan muslim menutupi kepala sejumlah unta Arab dengan kain. Kuda Persia ketakutan & menjadi liar karena mengira itu gajah.

Pasukan kavaleri Persia tersebut banyak yang terbunuh, yang lari terus dikejar sampai Rustum sendiri hampir terbunuh pula. Pertempuran hari kedua tetap berlanjut sampai tengah malam. Sementara itu, bantuan pasukan muslim terus datang dari Syam sebanyak 6.000 personil dipimpin Hasyim bin Utbah. Hari ke-3 (pertempuran Amas) pasukan gajah kembali menggila. Kali ini mereka dikawal pawang dan dilindungi pasukan kavaleri.

Dua bersaudara ibnu Amr (Qa’qa’ dan Asim) kembali berperan hebat. Mereka menombak mata dan memotong belalai 2 gajah terbesar. Kedua gajah itu mengamuk ke arah pasukan Persia namun dihalau balik.Oleh pasukan muslim ditusuk dengan tombak lalu lari ke sungai. Larinya kedua pimpinan gajah ini diikuti oleh kawanannya. Pasukan gajah Persia pun bubar jalan.

Pertempuran terus berlangsung dan sebenarnya sudah mulai reda menjelang malam. Tapi Sa’ad merasa khawatir serangan Persia melalui penyeberangan sungai. Tulaihah & Amr beserta seregu pasukan memeriksa. Perintahnya jelas: periksa dan berjaga sampai ada perintah selanjutnya. Penyeberangan itu kosong, lalu mereka tergoda untuk menyeberang dan mendatangi Persia dari belakang. Dan itu mereka lakukan!

Tulaihah & pasukannya mendatangi markas Persia dari belakang dan bertakbir 3x. Persia ketakutan dan mengira itu tipu muslihat. Amr dan pasukannya bertempur di penyeberangan melawan Persia yang mulai bereaksi atas tindakan Tulaihah. Pasukan muslim sendiri juga heran dengan takbir Tulaihah, mereka mengira Persia telah mendahului menyerang.

Pasukan Persia terus mengatur barisan dan bergerak. Qa’qa’ melihat itu dan bergerak menghadapi mereka tanpa seizin Sa’ad. Sa’ad begitu mengetahui pergerakan pasukannya langsung berdoa. “Allahumma ya Allah, ampuni dan tolonglah mereka. Sudah kuizinkan mereka walau tidak meminta izin kepadaku”.  Pertempuran pun berkecamuk sampai waktu fajar. Kedua kubu kembali ke markas masing-masing. Muslimin terlihat lebih unggul.

Terhentikah pertempuran? Ternyata hari itu belum waktunya beristirahat. Pagi harinya kedua pasukan kembali bersiap. Pada saat adzan zhuhur berkumandang, pasukan Persia sudah kacau. Fairuzan (sayap kanan) & Hormuzan (kiri) sudah mulai mundur. Saat menyerang pasukan tengah Persia,kuasa Allah terjadi. Tiba2 angin barat bertiup kencang membawa badai pasir ke arah Persia.

Tenda-tenda Persia, termasuk tenda milik Rustum, menjadi porak-poranda. Suasana menjadi samar tak jelas dipenuhi pasir & debu. Dengan pecahnya barisan Persia ini, maka kesempatan emas bagi tentara muslim untuk merangsek maju menyerang. Pasukan Persia berhamburan tak karuan. Rustum meninggalkan tendanya dengan membawa bebrapa ekor bagal membawa hartanya.

Ia berlindung di samping bagal beserta barang bawaannya itu sampai Hilal bin Alqamah menghantam salah satu bagal tersebut. Barang muatan tersebut pun jatuh dan menimpa Rustum yang kemudian berusaha merangkak melarikan diri ke sungai. Hilal segera mengenalnya dan kemudian membunuh Rustum, Sang Panglima Besar Kekaisaran Persia.

Setelah itu dia berteriak sambil mengangkat kepala Rustum: “Demi penjaga Ka’bah! Aku Hilal bin Alqamah telah membunuh Rustum!” Pasukan Persia pun semakin berantakan lahir batinnya mengetahui hal tersebut. Jalinus segera mengambil alih pimpinan. Jalinus memerintahkan pasukannya menyeberang sungai lewat bendungan besar meniru Fairuzan dan Hormuzan.

Pasukan ini pun menyeberang, namun bendungan tersebut runtuh dan 30.000 tentara Persia yang diikat dengan rantai besi tewas. Daravasykabian, panji Persia yang terbesar terjatuh sebagai simbol kekalahan mereka. Dirar bin al-Khattab segera mengambilnya. Jalinus dan sisa-sisa pasukannya terus dikejar Qa’qa’, Syurahbil dan Zuhrah at-Tamimi. Jalinus akhirnya terbunuh oleh Zuhrah.

Akhirnya, pasukan penyembah api itu kalah telak dan lari tercerai-berai, terbunuh pada perang Qadisia ini sebanyak 40.000 tentara. Adapun jumlah pasukan muslim yang gugur sebanyak 2.500 orang. Dari pertempuran ini, pasukan muslim memperoleh rampasan perang yang sangat banyak, termasuk perhiasan kekaisaran Persia.

Setelah pertempuran Qadisia ini, pasukan muslim terus mendesak masuk dengan cepat sampai dengan ibukota Persia, Ctesiphon atau Mada’in. Setelah itu dilanjutkan ke arah timur & mematahkan 2x serangan Persia sebelum akhirnya berhasil menghancurkan kekaisaran Persia.

Semoga bermanfaat,
DK

Sumber: