“ittaqunnar walau bisyiqqo tamrotin: Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma”(Hadits Shahih, Riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat Shahiihul jaami’ no. 114)

Thursday, December 10, 2015

Khutbah Jum'at - Al Quran Iman Kita

QS Al Baqarah - 23

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah,

Setiap agama di dunia ini mempunyai suatu kitab yang di anggapnya sebagai kitap suci. Orang Hindu punya kitab Weda, orang Budha punya kitap Tripitaka, Yahudi mempunyai Taurat, Nasrani mempunyai Injil, Penganut Konghucu punya kitap Tao Teh King, orang Majusi punya kitap Zend Avesta, orang kebatinan punya kitab serat centani, Hidayat jati, Darmo gandul atau Gatoloco. Sementara kita umat Islam oleh Allah diberi kitab Alquranul karim.
Mengapa kita yakini Alquran ini sebagai kitab suci?

Pertama, dia bebas dari intervensi dan investasi manusiawi. Ia sepenuhnya baik isi maupun redaksi adalah produk dari Allah Subhanallau Wata'ala. Kita yakini Alquran sebagai kitab suci, karna sampai hari ini belum ada seorangpun yang sanggup membuat seperti itu. Suatu kitab hanya dinamakan suci kalau dia bersih dari intervensi dan investasi manusia. Alquran ini sejak turunya 14 abad yang lalu telah menantang:

“Wainkuntum firoybi mimma nazzalna ala abdina, fa’tu bisurrotin mimmislih”
Apabila kamu ragu-ragu terhadap kebenaran Qur’an, yang Kami turunkan kepada hamba kami Muhammad, atau kamu menyangka Qur’an itu hanya bikinan Muhammad saja, cobalah kamu buat satu surah saja semacam Alqur’an. 

Apabila kamu tidak mampu melakukannya seorang diri “Wad’u syuhada akum”
Ajak seluruh teman-temanmu. 

(QS Albaqarah – 23)

Sejak tantangan ini turun 14 abad yang lalu, sampai hari ini tidak ada seorangpun yang sanggup membuat satu surah saja semacam Alqur’anul karim. Apakah belum pernah ada yang coba-coba? Jawabnya sudah pernah. Diantaranya apa yang dilakukan oleh Musailamah Al Kahzab. Dia mencoba membuat satu surah semacam Alqur’an yang kalimatnya sudah berbentuk ba’it-ba’it syair, tapi isinya jauh panggang daripada api.
Yang kedua, kita yakini Qur’an sebagai kitab suci, karna isi dan ajarannya sesuai dengan fitrah manusia. Suatu kitab dinamakan suci kalau ajarannya sejalan dengan fitrah manusia. Misalnya: manusia secarah fitrah, kalau dia laki-laki normal, pasti nafsu kepada perempuan. Itu fitrah. Perempuan suka kepada laki-laki, itu juga fitrah. 

Kalau ada kitab suci tapi melarang untuk manusia untuk kawin, maka kesuciannya perlu diselidiki. Qur’an kitab suci sejalan dengan fitrah manusia, maka ia menganjurkan manusia yang mampu, untuk melangsungkan perkawinan. 

Contoh lain, secara fitrah manusia perlu makan, kalua ada kitab suci yang melarang manusia makan dengan berpuasa saja terus menerus siang malam, itukan sama saja menyuruh orang mati. Qur’an sesuai dengan fitrah manusia, maka dalam Islam, yang namanya puasa wisol (puasa ngebleng istilahnya) atau puasa nyambung, dari pagi sampai sore, sampe malem nyambung pagi lagi puasa terus, bukan saja tidak boleh maka haram hukumnya, kenapa? Itu bertentangan dengan fitrah manusia. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa puasa wisol tersebut.

Yang ketiga, kita yakini Qur’an sebagai kitab suci, karena isinya tidak kontroversil. Maksudnya, isinya tidak bertentangan satu dengan lainnya. Di ayat manapun Qur’an mengajarkan Allah itu Esa, satu kali dia berkata haram, dia akan tetap berkata haram. Isinya tidak kontroversil, sebab kalau ada kitab suci, yang di satu pihak mengajarkan Tuhan Esa, dilain ayat mengajarkan Tuhan ada tiga, kitab kacau namanya.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah,
Bagaimana kitab dinamakan suci, kalau isinya kontroversil satu dengan lainnya. Dari ketiga kriteria inilah kita yakini Qur’an sebagai kitab suci. Lantas masalah yang akan kita bicarakan disini, adalah bagaimana sikap kita terhadap Al Qur’anul karim sebagai kitab suci.

Berangkat dari sebuah hadits, dimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pernah memberikan tawaran, beliau bersabda:
Manja’alal qur’ana amamahu, qod’ahu illal Jannah, waman ja’anal qur’ana kholfahu, sakhohu illannaru.

Siapa yang menjadikan Qur’an sebagai imam, maka Qur’an akan membimbing dia kedalam surga, tetapi siapa yang menjadikan Qur’an sebagai makmum, maka Qur’an akan mendorong dia kedalam neraka.

Pilihan terserah kita. Siapa yang menjadikan Al Qur’an sebagai imam, ditempatkannya Qur’an didepan. Dia ikuti petunjuk dan ajaran Al Qur’an, maka Qur’an akan membimbing dia ke surga, surga dunia terlebih lagi surga akhirat. Tetapi sebaliknya, siapa yang menempatkan Al Qur’an dibelakangnya, dia belakangi Alquran, dia belakangi perintah dan ajaran-ajaran Al Qur’an, dia perturutkan hawa nafsunya dalam kehidupan ini, maka Qur’an akan mendorong dia kedalam neraka, ya neraka dunia, terlebih lagi neraka akhirat. Pilihan terserah kita.

Apabila Qur’an jadi imam, artinya kita umat Islam jadi makmum. Resiko dan logika tentu, makmum harus ngikuti imam. Imam takbir-makmum takbir, imam rukuk-makmum rukuk, imam sujud-makmum sujud, itu namanya Qur’an jadi imam, kita jadi makmum. Artinya dalam terjemahan didalam kehidupan, kalau merah kata Qur’an-merah kita kata, hijau kata Qur’an-hijau kita bilang. Halal kata Qur’an-halal kata kita. Haram kata Qur’an-haram kita bilang. Itu namanya Qur’an Imam-kita makmum.

Nyatanya kadang-kadang kontras, nyatanya kadang-kadang berbeda, Merah kata Qur’an-hijau kata kita, halal kata Qur’an-remang-remang kata kita. Dalam prakteknya terkadang, kita yang jadi imam dan Qur’an jadi makmum, kita sesuaikan Qur’an dengan selera kita, mana ayat yang menguntungkan, mana ayat yang sesuai dengan kemampuan kita, itu yang kita baca kuat-kuat. Itu yang kita canangkan didalam masyarakat ramai. Tapi apabila bertentangan dengan nafsu kita, bertentangan dengan gaya dan kepribadian kita, yang terjadi kita sembunyikan itu Qur’an. Kalau kita hanya sembunyikan Al Qur’an itu masih lumayan, terkadang kita tuduh Qur’an ketinggalan zaman, kita anggap Qur’an tidak relevan lagi dengan situasi dan kondisi. Kalau sudah begitu, sudah menyeberang terlalu jauh namanya.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah,
Inilah makna hadits nabi yang di riwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib, bersabda Rasulullah:
“Manqoro Alqur’ana fajtaj kharohu, fa’ahalla hallallahu, waharroma haromahu adkholahul Jannah”
Barang siapa yang membaca Al Qur’an, lalu memperhatikannya kemudian menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, maka Allah akan memasukkan orang tersebut kedalam surga. Surga dunia ya surga akhirat.

Apabila kita renungi hadits ini, maka untuk berimam kepada Al Qur’an, ada tiga jalan utama yang harus kita laksanakan:
Pertama, dari kalimat Manqoro Alqur’ana barang siapa yang membaca Al Quran. Artinya siapa yang ingin menjadikan Qur’an sebagai imam didalam kehidupan, jalan pertama yang harus ditempuhnya menanamkan kegemaran membaca AlQur’anul karim.
Alqur’an ghoribun, fima baina khoumin layak rounna,

Qur’an akan jadi asing, qur’an akan jadi aneh, kalau terletak ditengah rumah orang islam yang tidak suka membaca Alqur’anul karim. Jadi langkah pertama, tanamkan kegemaran membaca Alqur’an.
Saya tidak menyalahkan kalau remaja kita gandrung kepada One Direction, suka sama suaranya Ariel Noah, tapi kalau sampai harus mengalahkan kecintaan mereka kepada membaca Al Qur’an, itu namanya ironi. Sebagai orang tua, kalau anak-anak kita buta huruf latin, katanya menghambat pembangunan, bahkan pemerintah menggalakkan bebas 3B, buta aksara diantaranya, supaya rakyat bisa membaca huruf latin. Lantas bagaimana kalau anak-anak kita buta huruf Alqur’an, jelas saja menghambat proses kesadaran dan kebangkitan dari dunia islam itu sendiri.


Sebagai contoh, dulu sebelum adanya listrik di desa, kalau kita masuk kampung di sore hari, maka akan terdengar banyak anak-anak muda yang belajar membaca Alquran, tapi apa yang kemudian terjadi sekarang, adanya proses pergeseran nilai. Sekarang setelah listrik masuk desa, Radio main kencang-kencangan, televisi main gede-gedean. Baca qur’an sudah jadi barang aneh.

Dalam suatu hadits Nabi berpesan: “Nawiru buyutakum bitilawatil qur’an”
Sinari rumah tanggamu dengan bacaan Alqur’an, sebab listrik ini hanya bisa menerangi gelap, tapi tidak bisa menerangi hati manusia.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah,
Yang Kedua, dari hadits tadi “Manqoro Alqur’ana fajtaj kharohu” siapa yang membaca Alquran dan memperhatikannya. Kalau kita mau menjadikan Alquran sebagai imam, yang kedua harus memperhatikan (Pahami isinya). Jangan seperti monyet pakai mahkota, tertawa girang tapi dia tidak mengerti kebesaran mahkota yang dia sandangnya itu. Bangga dengan Alqur’an tapi kita tidak mengerti kandungannya.

Untuk memahami Alquran ini bagaimana? Tentu mudah saja, untuk mengerti rahasia seluk beluk Alquran harus bertanya kepada para ulama, kiyai, ustadz yang kita tau kualitas keilmuannya, kita yakini loyalitas dan integritasnya kepada islam ini. Kenapa kita bertanya kepada orang yang mengerti, karna ayat-ayat Alquran itu elastis, dia dibawa kemana aja mau, ditafsirkan menurut kemauan orang bisa. Paling celaka kalau yang belajar tidak punya dasar, yang mengajar punya maksud lain. Yang terjadi sesat menyesatkan.

Jalan Ketiga, untuk berimam kepada Alqur’an setelah gemar membacanya, dan memahami isinya maka yang ketiga adalah mengamalkannya didalam kehidupan dan kemampuan yang kita miliki. Qur’an tidak akan membawa berkah, kalau ajaran yang terkandung didalamnya kita baca, tapi kemudian kita injak-injak dalam praktek kehidupan. Quran mengatakan riba adalah haram, tapi praktek kita didalam hidup malah senang sekali kepada riba. Qur’an mengajarkan jagalah persatuan kesatuan dan ukhuwah islamiah praktek yang kita lakukan malah centang perenang, malah saling bertolak belakang, malah kadang menjegal kawan seiring, menggunting dalam lipatan, ramai sesama umat islam sendiri.
Qur’an sekali lagi tidak akan membawa berkah kalau yang kita baca kita injak-injak.

Itu saja sekelumit tentang pemahaman AlQur’an sebagai imam kita, semoga kita bisa terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita ajak istri, anak dan keluarga kita untuk gemar membaca Alqur’an, memahami isinya dan mengamalkannya didalam kehidupan kita.


Khutbah Kedua:
Ma’asyirolmuslimin Rahimakumullah,
Dijaman technology maju saat ini dimana handphone atau gadget yang kita miliki sudah bisa kita pasang aplikasi Alqur’an yang lengkap dengan translate dan suara qori-nya. Jangan sampai kita lebih mengutamakan aplikasi sosial media yang kita kita gunakan tiap waktu dibandingkan aplikasi Alqur’an yang akan menolong kita di akhirat kelak.
Perlu diingat, membaca Alqur’an setiap hari akan membuat kita menjadi tenang, karna maaf-maaf apabila ajal kita sudah tiba dihari itu, maka amalan terakhir apa yang akan kita bawa selain membaca Alquran.
Semoga Alqur’an bisa membawa kita kedalam surga dunia terlebih lagi surga akhirat. Amin Ya Robbal 'Alamin.

Semoga bermanfaat
DK