“ittaqunnar walau bisyiqqo tamrotin: Jagalah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan bersedekah sepotong kurma”(Hadits Shahih, Riwayat Bukhari dan Muslim. Lihat Shahiihul jaami’ no. 114)

Wednesday, December 28, 2016

Kisah Keadilan Umar bin Khattab dengan Seorang Yahudi

Istana Gubernur Amr bin Ash
Pada saat masa ke khalifahan Umar bin Khattab, yang diangkat menjadi gubernur di Mesir adalah Amr bin Ash. Amr bin Ash, hidupnya lebih mirip kaisar, istananya besar, pakaiannya bagus-bagus. 

Pikiran yang paling menggangu Amr bin Ash saat itu adalah disebelah istananya ini ada sebuah gubuk, reot, kepunyaan orang yahudii. Amr bin Ash berencana akan membangun sebuat masjid besar di tempat gubuk tersebut, dan otomatis harus menggusur gubuk reot Yahudi tersebut. 


Lalu dipanggil lah si Yahudi itu untuk diajak diskusi agar gubuk tersebut dibeli dan dibayar 2x lipat. Akan tetapi si Yahudi tersebut bersikeras tidak mau pindah karena dia tidak punya tempat lain selain disitu. Karena sama-sama bersikeras, akhirnya turun perintah dari Gubernur Amr bin Ash untuk tetap menggusur gubuk tersebut.

Si Yahudi merasa dilakukan tidak adil, menangis berurai airmatanya, kemudian dia melapor kepada khalifah, karna diatasnya gubernur masih ada yang lebih tinggi. Dia berangkat dari Mesir ke Madina untuk bertemu dengan Khalifah Sayyidina Umar bin Khattab.

Sepanjang jalan si yahudi ini berharap-harap cemas dengan membanding bandingkan kalau gubernurnya saja istananya begitu mewah, bagaimana lagi istanya khalifahnya? Kalau gubernunya saja galak main gusur apalagi khalifahnya dan saya bukan orang Islam apa ditanggapi jika mengadu?”
Sebatang Pohon Kurma
Sesampai di Madina dia bertemu dengan seorang yang sedang tidur-tiduran dibawah pohon Kurma, dia hampiri dan bertanya, bapak tau dimana khalifah Umar bin Khattab? Dijawab orang tersebut, ya saya tau, Dimana Istananya?  Istananya di atas lumpur, pengawalnya yatim piatu, janda-janda tua, orang miskin dan orang tidak mampu. Pakaian kebesarannya malu dan taqwa. 

Si Yahudi tadi malah bingung dan lalu bertanya sekarang orangnya dimana pak? Ya dihadapan tuan sekarang. Gemetar yahudi ini keringat bercucuran, dia tidak menyangka bahwa didepannya adalah seorang khalifah yang sangat jauh berbeda dengan gubernurnya di Mesir.

Sayiddina umar bertanya, kamu dari mana dan apa keperluanmu? Yahudi itu cerita panjang lebar tentang kelakuan Gubernur Amr bin Ash yang akan menggusur gubuk reotnya di Mesir sana. Setelah mendengar ceritanya panjang lebar, Sayyidina Umar menyuruh yahudi tersebut mengambil sepotong tulang unta dari tempat sampah didekat situ. Lalu diambil pedangnya  kemudian di gariskan tulang tersebut lurus dengan ujung pedangnya, dan disuruhnya yahudi itu untuk memberikannya kepada Gubernur Amr bin Ash. Makin bingung si yahudi ini dan dia menuruti perintah Khalifah Sayyidina Umar tersebut.
Pedang Sayyidina Umar bin Khattab
Sesampai di Mesir, yahudi inipun langsung menyampaikan pesan sayyidina umar dengan memberikan sepotong tulang tadi kepada Gubernur Amr bin Ash. Begitu dikasih tulang, Amr bin Ash melihat ada garis lurus dengan ujung pedang, gemeter dan badannya keluar keringat dingin lalu dia langsung menyuruh kepala proyek untuk membatalkan penggusuran gubuk yahudi tadi. 

Amr bin Ash berkata pada yahudi itu, ini nasehat pahit buat saya dari amirul mukminin Umar bin Khattab, seolah-olah beliau bilang ‘hai Amr bin Ash, jangan mentang-mentang lagi berkuasa, pada suatu saat kamu akan jadi tulang-tulang seperti ini. Maka mumpung kamu masih hidup dan berkuasa, berlaku lurus dan adillah kamu seperti lurusnya garis diatas tulang ini. Lurus, adil, jangan bengkok, sebab kalau kamu bengkok maka nanti aku yang akan luruskan dengan pedang ku.

Akhirnya Amr bin Ash memerintahkan kepada kepala proyek untuk membatalkan pembangunan masjid, dan rumah yahudi yang sudah dihancurkan tadi minta dibangunkan kembali.

Akan tetapi, setelah melihat keadilan yang dicontohkan Sayyidina Umar tersebut, sang yahudi itu menghibahkan gubuknya tadi buat kepentingan pembangunan masjid, dan diapun masuk Islam oleh karena keadilan dari Umar bin Khattab.

Semoga bermanfaat,
Ded Lee

Sumber: